BANDA ACEH - Jutaan penduduk di Benua Asia, hari ini, Rabu (22/7) akan menjadi saksi fenomena astronomi spektakuler abad ini, yaitu gerhana matahari total. Untuk wilayah Indonesia, masyarakat Aceh terutama yang berada di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang akan bisa melihat gerhana matahari mulai pukul 07.14 WIB dan berakhir pukul 08.47 WIB.
Gerhana matahari yang terjadi kali ini juga disebut gerhana matahari terlama sepanjang abad 21 dengan lamanya waktu atau fase gerhana mencapai 6 menit dan 39 detik. Khusus untuk wilayah Aceh, menurut Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Provinsi Aceh memperkirakan gerhana matahari mulai terjadi pukul 07.14 WIB dengan posisi observer di Lhoknga, Aceh Besar, dan berakhir pada pukul 08.47 WIB. Tapi sayangnya, gerhana matahari yang terlihat di Aceh bukan gerhana matahari total.
“Gerhana matahari di Aceh hanya bersifat parsial (sebagian, red), dan hanya menyentuh bagian kanan matahari atau sebelah kiri observer. Gerhana matahari total akan terjadi di wilayah India dan sebahagian Cina,” kata Alfirdaus Putra, Observer dari Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh yang dihubungi Serambi, kemarin.
Dijelaskannya, dari perkiraan awal observer Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh, saat gerhana terjadi posisi matahari berada di ketinggian 8 derajat 40 menit dimana untuk pertama kali matahari muncul dari permukaan bumi dan bergesek dengan bulan hingga mencapai di ketinggian 30 derajat 16 menit. Sedangkan bila dilihat dari titik utara posisi matahari saat gerhana terjadi, berada di 70 derajat 15 menit hingga 69 derajat 40 menit (azimuth horizontal matahari).
Menurut Alfirdaus, fase gerhana dapat dilihat dengan jelas juga tergantung kondisi cuaca. Biasanya, bila cuaca dalam keadaan mendung, maka kemungkinan gerhana sulit untuk dilihat karena terhalang awan. “Kalau tidak ada hujan dan mendung, masyarakat bisa melihatnya pada pukul 07.14 WIB arah timur. Perlu juga diperhatikan agar tidak terlalu fokus melihat dengan mata telanjang,” katanya.
Menurutnya, fenomena gerhana matahari yang terjadi di Aceh tidak begitu berdampak pada kondisi di mana suasana kota akan gelap. Sebab, gerhana yang terjadi tersebut hanya menutup sebagian atau sekitar 30-35% luas matahari oleh bulan sehingga tidak bisa dikatakan gerhana matahari total. Fenomena gerhana ini hampir sama seperti gerhana matahari cincin pada 26 Januari 2009 yang juga bisa disaksikan oleh masyarakat Aceh.
Shalat sunat kusuf
Menurut Alfirdaus, karena ini merupakan peristiwa alam dan bentuk kekuasaan Allah SWT, maka masyarakat Aceh dianjurkan untuk melakukan shalat sunat kusuf (gerhana) antara waktu terjadinya gerhana. Menurutnya, pihak Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh hari ini atau saat terjadinya gerhana berupaya melakukan obeservasi di Pusat Observasi atau Gedung Orservatorium Hilal Lhoknga, Aceh Besar yang melibatkan tim observer dari Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Aceh dan tim Kanwil Depag Aceh.
Saat ini Kanwil Depag Aceh memiliki tiga fasilitas observasi yang memiliki kualitas terbaik di Sumatera yaitu teropong untuk melihat hilal saat menjelang ramadhan dan hari raya, teropong yang bisa digunakan secara manual (bisa dibawa) serta teropong yang khusus digunakan untuk memantau perkembangan peristiwa yang berkaitan dengan astronomi.
Isu gempa
Jelang gerhana matahari total, beredar e-mail yang menyatakan akan terjadi gempa besar berkekuatan 6 skala Richter dan tsunami. Namun informasi dalam selebaran elektronik tersebut dibantah kebenarannya oleh Thomas Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
“Berita itu bohong, kemungkinan terjadinya gempa terkait dengan posisi bulan baru dan purnama kecil sekali,” kata Thomas Djamaluddin sebagaimana dikutip dan dilansir Kompas.com, Selasa (21/7). Ia mengatakan walaupun dari segi hipotesis, kemungkinan terjadinya gempa akibat posisi bulan baru dan purnama ada, tetapi sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan secara konklusif kalau ada keterkaitan di antara keduanya.
Thomas mengakui dari catatan selama ini, ada beberapa peristiwa gempa yang terjadi saat purnama, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, di Padang Mentawai tahun 2005, dan di Yogyakarta pada tahun 2006. Namun menurutnya, tetap saja belum dapat diambil kesimpulan bahwa akan ada gempa atau tsunami saat gerhana matahari total, Rabu (22/7).
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa gerhana mungkin hanya sebagai pemicu terjadinya gempa. Penyebab gempa terdapat di kulit bumi, karena gerhana matahari total menyebabkan pasang surut, maka ada kemungkinan pasang surut tersebut mempengaruhi kulit bumi. “Sampai saat ini belum ada satu pun penelitian yang dapat memprediksi gempa seperti dipaparkan dalam e-mail tersebut,” kata Thomas Djamaluddin.(sar/nas/kompas.com)
Monday, August 24, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment