Thursday, August 20, 2009

fasilitas pegeumis di banda aceh

Terbayang kalau pegemis itu tidurnya di kolong jembatan atau di emperan toko atau juga di taman kota. Ternyata tidak semua pegemis itu meginap di sana. Di kota ini, banyak pegemis malah menginap di tempat penyewaan kamar lengkap dengan alas tidur, sanitasi, dan penerangan listrik.

Seperti halnya di kawasan Terminal Bus, Stui, Banda Aceh. Sedari dulu tempat itu ditengarai sebagai base cam pegemis yang datang dari luar kota ini. Losmen Bambi, di kawasan itu sering menerima orang-orang penjual obat tadisional dan kalangan pegemis keliling bermodalkan ragam surat keterangan, megatasnamakan pembanguan mesjid dan dayah. Beberapa warung di kawasan terminal itu juga ada yang menyewa kamar-kamar untuk mereka para pegemis keliling kota, bahkan, pegemis kelas terminal sekalipun, baik itu yang cacat atau tidak. Malahan harga tempat inap di warung-warung itu, dari segi tarif bersaing.

Di salah satu bangunan rukoh di luar kawasan terminal banyak pegemis berkelas meginap di sana. Di lantai dasar bangunan adalah warung nasi, di lantai dua dan tiga, berupa kamar atau bilik yang disewakan. Dari banyak kalangan pegemis yang dimintai keterangannya di kota ini, mengaku meginap di bangunan tadi. Para pegemis akrab menyebut tempatnya “di warung Bang Man”, demikian beberapa pegemis kota memanggil pemilik warung tersebut. Selain itu ada juga menyebut di warung Bang Lateh dan warung Bang Benu. Dua warung ini berada di dalam kawasan terminal Stui.

Suatu malam wartawan media ini berkunjung ke warung Bang Man dengan maksut melihat lebih dekat fasilitas inap pegemis-pegemis tersebut. Bang Man meminta nama warungnya tidak disebutkan, alasannya demi nama baik warungnya. Dia mengaku membuka warung nasi sekaligus membuka usaha penyewaan kamar alias kamar kost di ruko tempatnya itu di mulai sejak 2004. Ada sepuluh kamar yang dia kostkan. “Yang meginap di sini pedagang kain, pejual obat, dan peminta sedekah,” jelas Bang Man menambahkan biaya sewa satu malam untuk satu orang Rp 7000 sudah termasuk biaya listrik, air mandi plus WC. Untuk kamar madi hanya ada dua dalam kondisi yang menyeramkan.

Malam itu ada 15 orang yang menginap di tempatnya. “Di sini saya selalu menyeleksi yang meginap. KTP juga kadang saya minta, bila mengaku suami istri, saya mita lihat surat nikahnya, kalau ada yang terlalu kotor penampilannya saya tidak ijinkan menginap di sini,” ujarnya seolah tegas. Kalangan peminta sumbangan alias pegemis, diakui Bang Man, lebih banyak menginap di tempatnya disamping ada juga para penjual obat dan pedagang kecil dari luar Aceh.

Kondisi ruangan yang semeraut, penuh coretan dinding, udara pengap merebak bau bacin dari tong sampah yang penuh di ruangan itu. Sepintas suasana di fasilitas peginapan Bang Man kurang terurus. Lampu ruangan redup, suara-suara pria dan wanita terdengar. Suara anak-anak menjerit-jerit. Bilik-bilik itu sebagian terkunci gembok sebagian tidak dan ada yang terbuka begitu saja dengan penghuninya. Beberapa anak kecil dengan lasak berlari di gang depan bilik mereka. Seorang perempuan dengan mengendong anak kecil keluar dari bilik, dibelakangnya ada tiga anak megikutinya dan ibu itu masuk ke bilik lain disebelahnya. Seorang pria muda megenakan kain sarung tanpa baju keluar dari salah satu bilik dengan sebatang rokok yang dihisapnya. “Di Banda Aceh lon kah dua bulen nyoe minta sedekah” (Di banda Aceh saya sudah dua bulan ini minta sedekah), sebutnya mengaku ke Banda Aceh untuk meminta sumbangan pembanguan Mesjid di Samalanga kampungnya. Suara perbincangan via telefon selular dari salah satu bilik terdengar. Mungkin juga suara pegemis yang sudah punya hp.

Di bilik lain ada pintu yang terbuka, “nyo aneuk lon, jih seupot mata, kamoe ban troek dari Aceh Utara,” (ini anak saya, dia buta, kami baru tiba dari Aceh Utara), ujar perempuan tua memperkenalkan anak perempuannya yang terlihat memang tak bisa melihat lagi. Maksut kedatangan mereka jelas untuk mencari peruntungan di Banda Aceh dengan meminta sedekah alias megemis juga.

Bang Man mengaku warungnya itu sudah beberapa kali didatangi orang-orang pemerintahan, baik itu yang memberi teguran atau memberi bantuan kepada pegemis yang meghuni tempatnya. “Kepala desa dusun Teratai, bapak Husni dan Kapolsek Jaya Baru, bapak Irvan, sudak tahu kalau warung saya ini banyak pegemis yang tinggal. Dinas Sosial Banda Aceh juga sudah beberapa kali datang,” sebutnya. Rata-rata penghuni kamar di tempat itu, pengakuan Bang Man, berasal dari Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat.

Beranjak sekitar 300 meter dari warung Bang Man, ke dalam komplek Terminal Bus, Stui, Banda Aceh ada sebuah warung kopi tertulis di sisi depannya “Bang Lateh”. Ketika itu, pemilik warung mulai menutup kedainya karena sudah larut malam. Dia, Bang Lateh sebagaimana disebut-sebut oleh beberapa pegemis tadi. Bang Lateh mau dajak bicara dan mengaku kalau sudah tengah malam, warungnnya memang tempat menginap para pegemis terminal dan mereka bayar. “Saya hanya membantu, dari pada mereka meginap di luar tak tentu, lebih baik di warung tempat saya,” katanya dengan sewa inap Rp 6000 hanya disebirikan selembar tikar dan ruangan muat untuk tidur lima orang.

Tak ada WC atau air bersih di warung Bang Lateh. Untuk itu pegemis bisa langsung ke WC umum terminal yang berdekatan. Berkali-kali Bang Lateh mengatakan bahwa dirinya bukan menampung, “saya bukan menampung pengemis, saya hanya membatu. Sayang mereka bila tidur di luar di terminal, barang mereka banyak yang hilang di curi, lebih baik mereka meginap di warung saya biar aman,” ujarnya.

Losmen Bambi yang berdekatan dengan terminal itu, berdasarkan informasi orang-orang di terminal, juga menjadi tempat peginapan para pegemis berkelas alias pegemis propesional sampai kelas teri. Satu malam harga kamar terendah Rp 35.000. “Sedikit sekali mereka yang kerja mencari sumbangan dan sedekah menginap di sini,” ujar seorang pria muda di Losmen Bambi ketika di tanya prihal adanya peminta sedekah menginap di losmen tersebut. Pun demikian, pengakuannya, terkadang ada juga orang yang datang berpenampilan kumal layaknya pegemis menyewa dan menginap di kamar losmen itu.

Inilah sebagian kecil yang tanpak bahwa adanya dukungan fasilitas inap bagi para pegemis di kota ini. Dengan adanya tempat inap khusus itu membuat para pegemis kota tak perlu susah payah cari tempat tidur. Di kota ini fasilitas itu ada dan diketahui oleh pemerintah. Dari segi tarifnya pun terbilang murah membuat para pegemis dari luar kota betah mengais rejeki di Banda Aceh.

0 comments:

Post a Comment