Monday, September 28, 2009

Geisha – Jika Cinta Dia

Terlampau sering kau buat air mataku

Tak pernah kau tahu dalamnya rasa cintaku

Tak banyak inginku jangan kau ulangi

Menyakiti aku sesuka kelakuanmu

Ku bukan manusia yang tidak berfikir

Berulang kali kau lakukan itu padaku


Reff:

Jika cinta dia jujurlah padaku

Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu

Jika cinta dia ku coba mengerti


Teramat sering kau membuat patah hatiku

Kau datang padanya tak pernah kutahu

Kau tinggalkan aku disaat ku butuh kan mu

Cinta tak begini selama ku tahu

Tetapi ku lemah karena cintaku padamu


*

Jika cinta dia jujurlah padaku

Tinggalkan aku disini tanpa senyumanmu

Jika cinta dia ku coba mengerti

Mungkin kau bukan cinta sejati dihidupku


Back to * 2x



Koleksi Geisha yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Geisha – Jika Cinta Dia
Gambar Artis Indonesia




Download Youtube Video Clip Geisha – Jika Cinta Dia
Foto Artis Indonesia
Read More...

Monday, August 24, 2009

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Ditahan

Senin, 24 Agustus 2009 | 22:18 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, MI, Senin (24/8), resmi menjadi tahanan Kepolisian Kota Besar Banda Aceh. Dia ditahan bersama tiga orang lainnya karena diduga terkait kasus korupsi pengadaan sertifikat bisa baca Al Qur an senilai lebih dari Rp 200 juta. Pengadaan sertifikat tersebut dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2008.

Kepala Poltabes Banda Aceh Komisaris Besar Polisi Syamsul Bahri mengakui adanya penahanan tersebut. Dia juga sempat memerintahkan anak buahnya mempersiapkan sel tahanan yang digunakan untuk menahan para tersangka.

Menurut penyidik, keempat tersangka diduga melakukan tindak pidana korupsi yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 96 juta. Dalam kegiatan pengadaan sertifikat tersebut tersangka MI diduga melakukan penunjukkan langsung terhada CV Paloma tanpa melalui tender.

Keempat tersangka dijebloskan ke tahanan setelah hampir selama lima jam diperksa tim penyidik Satuan Reserse dan Kriminal Poltabes Banda Aceh. Keempat tersangka belum menunjuk pengacara untuk mewakili mereka. Read More...

Gerhana Matahari Total Terjadi Hari Ini * Bisa Terlihat di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang

BANDA ACEH - Jutaan penduduk di Benua Asia, hari ini, Rabu (22/7) akan menjadi saksi fenomena astronomi spektakuler abad ini, yaitu gerhana matahari total. Untuk wilayah Indonesia, masyarakat Aceh terutama yang berada di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang akan bisa melihat gerhana matahari mulai pukul 07.14 WIB dan berakhir pukul 08.47 WIB.

Gerhana matahari yang terjadi kali ini juga disebut gerhana matahari terlama sepanjang abad 21 dengan lamanya waktu atau fase gerhana mencapai 6 menit dan 39 detik. Khusus untuk wilayah Aceh, menurut Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Provinsi Aceh memperkirakan gerhana matahari mulai terjadi pukul 07.14 WIB dengan posisi observer di Lhoknga, Aceh Besar, dan berakhir pada pukul 08.47 WIB. Tapi sayangnya, gerhana matahari yang terlihat di Aceh bukan gerhana matahari total.

“Gerhana matahari di Aceh hanya bersifat parsial (sebagian, red), dan hanya menyentuh bagian kanan matahari atau sebelah kiri observer. Gerhana matahari total akan terjadi di wilayah India dan sebahagian Cina,” kata Alfirdaus Putra, Observer dari Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh yang dihubungi Serambi, kemarin.

Dijelaskannya, dari perkiraan awal observer Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh, saat gerhana terjadi posisi matahari berada di ketinggian 8 derajat 40 menit dimana untuk pertama kali matahari muncul dari permukaan bumi dan bergesek dengan bulan hingga mencapai di ketinggian 30 derajat 16 menit. Sedangkan bila dilihat dari titik utara posisi matahari saat gerhana terjadi, berada di 70 derajat 15 menit hingga 69 derajat 40 menit (azimuth horizontal matahari).

Menurut Alfirdaus, fase gerhana dapat dilihat dengan jelas juga tergantung kondisi cuaca. Biasanya, bila cuaca dalam keadaan mendung, maka kemungkinan gerhana sulit untuk dilihat karena terhalang awan. “Kalau tidak ada hujan dan mendung, masyarakat bisa melihatnya pada pukul 07.14 WIB arah timur. Perlu juga diperhatikan agar tidak terlalu fokus melihat dengan mata telanjang,” katanya.

Menurutnya, fenomena gerhana matahari yang terjadi di Aceh tidak begitu berdampak pada kondisi di mana suasana kota akan gelap. Sebab, gerhana yang terjadi tersebut hanya menutup sebagian atau sekitar 30-35% luas matahari oleh bulan sehingga tidak bisa dikatakan gerhana matahari total. Fenomena gerhana ini hampir sama seperti gerhana matahari cincin pada 26 Januari 2009 yang juga bisa disaksikan oleh masyarakat Aceh.

Shalat sunat kusuf
Menurut Alfirdaus, karena ini merupakan peristiwa alam dan bentuk kekuasaan Allah SWT, maka masyarakat Aceh dianjurkan untuk melakukan shalat sunat kusuf (gerhana) antara waktu terjadinya gerhana. Menurutnya, pihak Badan Hisab dan Rukyat Kanwil Depag Aceh hari ini atau saat terjadinya gerhana berupaya melakukan obeservasi di Pusat Observasi atau Gedung Orservatorium Hilal Lhoknga, Aceh Besar yang melibatkan tim observer dari Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Aceh dan tim Kanwil Depag Aceh.

Saat ini Kanwil Depag Aceh memiliki tiga fasilitas observasi yang memiliki kualitas terbaik di Sumatera yaitu teropong untuk melihat hilal saat menjelang ramadhan dan hari raya, teropong yang bisa digunakan secara manual (bisa dibawa) serta teropong yang khusus digunakan untuk memantau perkembangan peristiwa yang berkaitan dengan astronomi.

Isu gempa
Jelang gerhana matahari total, beredar e-mail yang menyatakan akan terjadi gempa besar berkekuatan 6 skala Richter dan tsunami. Namun informasi dalam selebaran elektronik tersebut dibantah kebenarannya oleh Thomas Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

“Berita itu bohong, kemungkinan terjadinya gempa terkait dengan posisi bulan baru dan purnama kecil sekali,” kata Thomas Djamaluddin sebagaimana dikutip dan dilansir Kompas.com, Selasa (21/7). Ia mengatakan walaupun dari segi hipotesis, kemungkinan terjadinya gempa akibat posisi bulan baru dan purnama ada, tetapi sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan secara konklusif kalau ada keterkaitan di antara keduanya.

Thomas mengakui dari catatan selama ini, ada beberapa peristiwa gempa yang terjadi saat purnama, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, di Padang Mentawai tahun 2005, dan di Yogyakarta pada tahun 2006. Namun menurutnya, tetap saja belum dapat diambil kesimpulan bahwa akan ada gempa atau tsunami saat gerhana matahari total, Rabu (22/7).

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa gerhana mungkin hanya sebagai pemicu terjadinya gempa. Penyebab gempa terdapat di kulit bumi, karena gerhana matahari total menyebabkan pasang surut, maka ada kemungkinan pasang surut tersebut mempengaruhi kulit bumi. “Sampai saat ini belum ada satu pun penelitian yang dapat memprediksi gempa seperti dipaparkan dalam e-mail tersebut,” kata Thomas Djamaluddin.(sar/nas/kompas.com) Read More...

PELAJAR ACEH GUGAT JAKARTA 2

Pelajar - Banda Aceh

Kami Solidaritas Independent Kaum Muda Aceh, yang sampai hari ini terus bekerja untuk mewujudkan dunia pendidikan yang sejahtera. Carut- marutnya pendidikan di Aceh khususnya, menimbulkan keprihatinan di hati kami sebagai pelajar Aceh. Kekecewaan yang telah mengendap di hati kami telah membakar secercah api harapan untuk mewujudkan sebuah Aceh baru yang lebih cerah. Karena kami sadar, pendidikan yang berkualitas dan baik adalah solusi yang paling mendasar untuk memerdekakan rakyat Aceh dari kebodohan, keterbelakangan dan penindasan.
Kami pelajar Aceh hari ini percaya bahwa nasib Aceh ke depan ada di tangan kita semua. Untuk itu, kawan, mari kita mengukir komitmen dalam hati kita dan bersepakat dengan jiwa kita bahwa hari ini kita menyatakan sikap untuk menolak sistem pendidikan yang zalim dan tidak berpihak pada perubahan yang lebih baik.
Karena kami sadar, pendidikan harusnya melahirkan manusia- manusia yang merdeka.
Karena pendidikan bukan untuk mencetak manusia- manusia yang bebal dengan kenyataan sosial.
Maka, kami dengan segenap hati dan sepenuh jiwa sekali lagi menyatakan dengan lantang, gaung suara perlawan akan bergema sampai ke Jakarta, yang kelak akan meruntuhkan tembok- tembok berlumut yang menghalangi laju roda sejarah bangsa Aceh.
Dengan gaung yang sama ini pula, kami menebar benih- benih harapan pada pelajar yang hari ini merindukan perubahan dalam sistem pendidikan dan memimpikan Aceh yang lebih baik.

Read More...

Penari Pendet di Iklan Visit Malaysia Orang Bali

Senin, 24 Agustus 2009 | 10:55 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Kelompok seminan Bali mendesak pemerintah untuk dapat memperjuangkan dan mempertahankan tari pendet sebagai salah satu warisan dan kekayaan milik bangsa Indonesia.

"Kami harapkan Pemerintah Indonesia dapat mempertahankan tari pendet setelah jenis kesenian warisan turun-temurun dari nenek moyang masyarakat Bali itu diklaim milik Malaysia," kata Ida Ayu Agung Mas, anggota DPD, di Denpasar, Senin (24/8).

Ia menyebutkan, pihaknya akan secepatnya menyampaikan aspirasi para seniman Bali itu kepada pemerintah untuk dapat ditindaklanjuti sehingga bangsa ini tidak lagi kehilangan harta kekayaan yang tidak ternilai harganya.

Tidak hanya tari pendet, tetapi lukisan, corak batik, dan beberapa karya cipta lagu-lagu daerah di Tanah Air juga sempat diklaim milik Malaysia. "Ini sudah sangat keterlaluan," katanya.

Malaysia lewat siaran iklan Visit Malaysia Year mengklaim tari pendet atau tari selamat datang yang biasa disuguhkan masyarakat Bali kepada para tamu penting yang datang ke Pulau Dewata.

Tari pendet yang dibawakan wanita berbusana adat Bali ditayangkan berkali-kali dalam iklan Visit Malaysia Year di beberapa stasiun televisi di dalam dan luar negeri.

Guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof Wayan Dibia, MA, menyatakan, berdasarkan pengamatan pihaknya, penari yang ditayangkan dalam iklan tersebut adalah orang Bali.

"Dua penari yang tampil merupakan alumnus ISI Denpasar yang bernama Lusia dan Wiwik. Sementara itu, pengambilan gambarnya dilakukan Bali Record sekitar dua hingga tiga tahun lalu," ujar Prof Dibia.

Melihat itu, kepada pemerintah ia menyerukan protesnya agar dapat mempertahankan produk kesenian yang ada untuk kembali didata dan didaftarkan sehingga tidak mudah diklaim negara lain.

"Tari pendet merupakan bagian dari warisan budaya kita, yang mana dalam tarian tersebut menampilkan nilai-nilai seni dan simbol-simbol budaya yang hanya dimiliki oleh tradisi budaya Hindu-Bali," tuturnya.

Ia mengharapkan, pemerintah secepatnya dapat meluruskan sekaligus mendaftarkan bahwa tari pendet betul-betul milik dan warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, dalam hal ini Bali.

"Dengan demikian, tari yang sesungguhnya sangat dimanjakan orang Bali itu tidak jatuh ke tangan orang lain yang berniat mencurinya," ujar Prof Dibia.

Read More...

Sunday, August 23, 2009

Tsunami Aceh Berulang Tiap 600 Tahun

Dua penelitian terbaru yang dimuat jurnal Nature edisi teranyar mengungkapkan fakta bahwa tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 merupakan peristiwa terbesar dalam 600 tahun terakhir. Tsunami sekuat itu mungkin akan mengalami perulangan kembali 600 tahun kemudian.

Hal tersebut dapat dilihat dari pola lapisan tanah yang diukur di dua lokasi berbeda yang dilakukan dua tim peneliti berbeda. Tim yang dipimpin Kruawun Jankew dari Universitas Chulalongkorn Thailand mengambil sampel dari 150 titik di pantai barat Thailand. Sementara tim pimpinan Katrin Monecke dari Universitas Pittsburgh, AS mengambil sampel dari 100 titik di Aceh dalam dua tahun, 2006 dan 2007.

Pada kedua lokasi para peneliti menemukan lapisan-lapisan pasir di bawah permukaan tanah yang merupakan bukti peristiwa tsunami dalam 2500 tahun terakhir. Lapisan pasir terbentuk dari material yang disapu gelombang ke daratan. Dengan teknik radiokarbon, waktu terjadinya tsunami dapat diperkirakan.

Dari hasil pengukuran, mereka menemukan bahwa tsunami yang kakuatannya setara dengan peristiwa tahun 2004 pernah terjadi 600-700 tahun lalu. Salah satunya juga mengungkap bukti bahwa tsunami serupa pernah terjadi antara tahun 780-990.


Read More...

Banyak Petani Sawit Beralih ke Singkong

Banyak Petani Sawit Beralih ke Singkong
Tumpukan sawit di halaman rumah warga.
Minggu, 23 Agustus 2009 | 13:16 WIB

LAMPUNG TIMUR, KOMPAS.com — Harga kelapa sawit di Kabupaten Lampung Timur anjlok dari Rp 1.500 per kg menjadi Rp 600 per kg sehingga banyak petani sawit yang beralih menanam singkong.

"Harga kelapa sawit sangat rendah. Hasilnya tidak mampu menutupi biaya produksi," kata Sekretaris Gabungan Kelompok Tani Tunas Mekar Marsudi (55) di Desa Pukem, Kecamatan Bumi Agung Lampung Timur, Minggu (23/8).

Menurut Marsudi, merosotnya harga kelapa sawit itu disebabkan turunnya permintaan ekspor dalam sebulan terakhir. Dampaknya, para petani kini nyaris tidak mampu membiayai pemupukan dan membayar biaya perawatan kebun kelapa sawit mereka.

"Banyak petani yang kini merasa kurang bersemangat untuk memanen kelapa sawit di kebunnya. Sebab, jika dihitung dengan harga jualnya, tidak seimbang dengan biaya yang telah dikeluarkan," katanya.

Salah seorang pekebun lain di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Bumi Agung, Paeran (48), mengatakan, para pekebun tradisional kini risau dengan harga kelapa sawit yang terus merosot tajam, bahkan nyaris berada di titik terendah sehingga terancam tidak mampu membiaya ongkos para pekerja sawit.

Menurutnya, beberapa bulan lalu, harga kelapa sawit masih Rp 1.500-Rp 2.000 per kg, tetapi kini anjlok mencapai Rp 600 per kg. "Kini, kami susah bangkit lagi untuk memanen karena pemasukan tidak seimbang dengan pengeluaran" katanya.

"Dahulu, dalam satu truk bisa mencapai 10 ton dengan harga Rp 1.500 per kg, bisa mendapatkan uang Rp 15 juta, sekarang dalam 10 ton hanya bisa membawa uang Rp 5 juta, belum dipotong upah pekerja dan transportasi," ujarnya. Dana yang tersisa tidak cukup untuk membeli pupuk dan membiayai perawatan masa tanam yang akan datang.

Read More...

Smart Fortwo Diproduksi Perterngahan November 2009

Minggu, 23/8/2009 | 12:55 WIB
BERLIN, KOMPAS.com - Makin gencarnya isyu lingkungan hidup dalam kegiatan Industri, termasuk sektor otomotif, membuat setiap prabrikan giat mengembangkan produk beremisi rendah. Seperti dilakukan oleh produsen asal Jerman, Daimler, yang bukan lagi bereksperimen, tapi mulai memproduksi mobil listrik Smart Fortwo pertengahan November 2009.

Kegiatan produksi akan dilakukan pada pabriknya di Hambach, Perancis. Jika berjalan dengan lancar, pada 2012 mendatang seluruh konsumen di wilayah Amerika Serikat dan Eropa akan sudah bisa memesannya.

City car generasi kedua ini menggunakan motor listrik berkapasitas 30kW dengan baterai lithium, yang mampu menghasilkan torsi maksimum 120nM. Fortwo mampu bakselerasi 0-60km/jam hanya dengan waktu 6,5 detik.

Di saat kondisi baterai penuh, jarak tempuhnya mencapai 115 km. Tapi, karena memang diperuntukkan hanya dalam kota, kecepatan mobil dua penumpang ini dibatasi pada 100km/jam.

Pada akhir 2009, beberapa unit Smart Fortwo akan mulai dibagikan untuk beberapa konsumen pilihan dengan jangka waktu pemakaian empat tahun atau 60.000 km. Dalam proyek bertajuk "e-mobility Berlin" ini akan mulai diciptakan jaringan distribusi serta perusahaan listrik setempat.

Selanjutnya, beberapa unit juga akan mulai dibagikan ke Hamburg, Paris, Milan, Pisa, dan Madrid. Tak ketinggalan, AS juga akan menerima sebagai awal sebelum diproduksi secara massal ke publik umum Read More...

Final Pertama Sharapova sejak 2008

Final Pertama Sharapova sejak 2008
Minggu, 23 Agustus 2009 | 12:46 WIB

TORONTO, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya sejak April 2008, Maria Sharapova akan tampil pada partai final sebuah turnamen. Sharapova akan berhadapan dengan sesama petenis Rusia, Elena Dementieva, pada final Turnamen WTA Premier Toronto, Kanada.

Sharapova ke final setelah mengalahkan Alisa Kleybanova, yang juga berasal dari Rusia, 6-2, 4-6, 6-4, pada pertandingan Sabtu (22/8) waktu setempat.

Adapun Dementieva menang atas Serena Williams, 7-6 (2), 6-1. Bagi Dementieva, kemenangan tersebut sekaligus menjadi balasan atas kekalahannya dari Serena saat pertemuan sebelumnya pada semifinal Wimbledon.

"Ini sangat menyenangkan. Sebuah sukses bagi diri saya sendiri. Kembali setelah tidak bermain untuk beberapa saat selalu terasa berat. Jadi, saya sangat bersyukur bisa kembali merasakan final," kata Sharapova. Cedera bahu membuat Sharapova absen selama sembilan bulan sebelum akhirnya bertanding lagi pada Mei.

Sebelum bertemu pada final nanti, Sharapova dan Dementieva telah bertemu 10 kali dan memenangi delapan pertandingan di antaranya. Pertemuan terakhir terjadi pada babak keempat Australia Terbuka 2008 yang dimenangi Sharapova, 6-2, 6-0. "Saya harus selalu siap untuk melawan dia karena dia akan membuat lawan banyak memukul bola," kata Dementieva.

Read More...

Kisah Satu-satunya "Lampu Stopan" di Baghdad

Kisah Satu-satunya "Lampu Stopan" di Baghdad
Petugas keamanan Irak memeriksa puing-puing bus yang hancur akibat bom di Baghdad, Irak, Senin (24/11). Kekerasan di Irak masih terus terjadi meskipun mulai berkurang.
Minggu, 23 Agustus 2009 | 12:23 WIB

BAGHDAD, KOMPAS.com-Satu-satunya lampu lalu-lintas yang masih berfungsi di Baghdad dan diapit oleh tembok bekas ledakan, bunker serta kabel, berdiri tegak. Itu sebagai "satu-satunya prajurit" untuk memulihkan ketenangan di kota yang telah lama dirundung kekacauan tersebut.

Lampu tenaga surya itu, yang beroperasi sejak Mei, berada di Damascus Square di Baghdad. Ini adalah lampu pertama sejak serbuan pimpinan AS 2003 untuk menggulingkan presiden Saddam Hussein.

Lampu lalu-lintas itu adalah bagian dari upaya untuk memulihkan kehidupan normal di Irak. Kerusuhan di Irak telah berkurang tapi tetap terjadi setiap hari --sebagaimana dibuktikan oleh pemboman mematikan Rabu (19/8) yang menewaskan hampir 100 orang.

"Yang membuat kami prihatin adalah serangan teror, orang meninggalkan bom mobil dan benda semacam itu, bukan tabrakan mobil," kata seorang personil polisi lalu-lintas yang hanya menyebutkan namanya sebagai Hussein sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Lampu itu berada di luar pintu masuk "Zona Hijau" yakni daerah kedutaan besar dan kantor pemerintah yang dijaga ketat dan sebelumnya berfungsi sebagai pusat pendudukan Amerika. Satu truk derek tetap berada di persimpangan dekat lampu. Fungsinya untuk mengangkat rongsokan mobil, muatan yang bertumpuk di luar kantor polisi di dekatnya.

Pada umumnya pengemudi kendaraan di Baghdad termasuk rombongan menteri dongkol terhadap setiap upaya melakukan pengendalian lalu-lintas. "Namun, para menteri dan personil militer berhenti jika mereka datang dengan satu mobil. Namun mereka tak melakukannya jika mereka berombongan," kata polisi lalu-lintas Ali Saad.

Kepatuhan pada lampu lalu-lintas adalah langkah besar yang dibutuhkan di Baghdad. Karena, jumlah kendaraan telah bertambah dari sebanyak 250.000 menjadi 1 juta sejak serbuan pimpinan AS. Meskipun tak ada surat izin baru yang dikeluarkan buat semua kendaraan tersebut.

Segera setelah invasi AS, satu peraturan yang masih berlaku hingga sekarang adalah mengenai kendaraan tak boleh melaju terlalu dekat dengan rombongan tentara asing atau kontraktor keamanan, jika Anda tidak mau ditembak. Meskipun tentara Amerika ditarik dari tengah kota pada 30 Juni, dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak, penghalang beton dan pos pemeriksaan dengan tujuan menghentikan pemboman mobil dan pria bersenjata masih menjadi metode utama pengendalian lalu-lintas.

"Jaringan lampu lalu-lintas yang pernah ada di Baghdad hilang sebagai akibat kekacaun pascapenggulingan Saddam," kata Brigadir Polisi Ammar Waleed Al Khayat, yang setiap hari menyampaikan laporan mengenai lalu-lintas melalui televisi. Setiap lampu lalu-lintas rusak, baik karena peralatannya dicuri maupun lampunya dipindahkan.

Kota tersebut pada 2008 memasang sejumlah lampu baru yang menerima pasokan listrik secara tradisional. Tetapi jika seseorang duduk di markas polisi lalu-lintas di dekat Departemen Dalam Negeri di Baghdad, ia segera mengetahui mengapa semua lampu itu tak berfungsi. Menurut Al Khayat, pada siang hari, lampu neon di kantor tersebut menyala, berkat pasokan listrik selama tiga jam sehari di kota itu, dan kemudian tiba-tiba listrik padam. "Bagaimana kami dapat mengoperasikan lampu lalu-lintas dengan listrik seperti itu?" ujar Al Khayat mempertanyakan.

Di Damascus Square, keadaan lebih aman dibandingkan beberapa tahun belakangan di mana aksi perlawanan dan pertempuran sektarian membuat kota tersebut kehabisan polisi lalu-lintas. Toh, itu tidak sepenuhnya benar. Satu bom truk dahsyat merenggut banyak nyawa dan meninggalkan puing di luar Departemen Luar Negeri hanya beberapa ratus meter dari tempat itu pada Rabu. Rangkaian serangan di ibukota Irak itu menewaskan hampir 100 orang.

Seorang pejabat intelijen, yang berpakaian seragam polisi lalu-lintas, mengatakan baru bulan Juli dua personil tewas di persimpangan jalan, setelah memburu beberapa pria bersenjata yang memakai lencana palsu polisi lalu-lintas. Ketika ditanya apakah pembunuhan semacam itu membuat dia takut, petugas intelijen tersebut mengatakan ia hanya malu.

Polisi lalu-lintas Hussein juga mengatakan ia merasa lebih aman dalam beberapa tahun belakangan. Selama masa kerusuhan paling buruk pada 2006, komandannya terbunuh dan banyak rekannya berdiam di rumah, karena takut dibunuh. "Sebelumnya kami harus mengenakan pakaian lapis baja dan membawa senjata, bukan pistol. Dan siaga," katanya. "Situasinya lebih baik sekarang. Yang penting ialah saya mengabdi buat negara".

Mohammed Abbas, pegawai negeri yang berusia 32 tahun mengatakan lampu lalu-lintas adalah bagian dari upaya peningkatan keamanan di jalan setelah tentara AS ditarik. "Saya kira lampu lalu-lintas baru bukanlah tanda perdamaian, tapi semua itu adalah tanda ketentraman," kata Abbas.

Read More...

Saturday, August 22, 2009

foto anwar

Read More...

Thursday, August 20, 2009

BERBAGI CERITA DENGAN SAHABAT DUNIA

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota .
Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.
Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.
Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah
hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti... Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.
Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota ... Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.
Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.
Setahun setelah pernikahan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.
Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.
Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya..
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"
Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badansosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.
Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.
Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.
Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".
Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalausebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Ditengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.
Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Dibelakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ."
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan nya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. "Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya".
Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. "Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam, antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak, kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.
"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama...." Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja...satu jam saja.....!!!" Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.....

CERITA SI KAYA DAN SI MISKIN.

Suatu hari, seorang ayah dari keluarga yang makmur mengajak anak lelakinya pada suatu daerah, untuk memperlihatkan padanya bagaimana kehidupan masyarakat miskin. Mereka menghabiskan beberapa waktu dan malam di peternakan untuk merasakan kehidupan keluarga miskin. Dalam perjalanan pulang sang ayah bertanya pada anak lelakinya.
Bagaimana perjalanannya ? "Oh ya," jawab anak lelaki. "Jadi, katakan padaku, apa yang kamu pelajari dari perjalanan ini?", Tanya sang ayah. Dan jawab sang anak : Aku melihat kita punya 1 ekor anjing dan mereka punya 4 ekor anjing. Kita punya kolam renang yang menjangkau taman kita, dan mereka punya teluk yang tak berujung. Kita punya lampu taman buatan luar negeri, dan mereka punya bintang di langit malam. Teras belakang kita menjangkau pekarangan dan mereka punya seluruh alam semesta. Kita punya sejengkal tanah untuk hidup dan mereka punya ladang luas untuk hidup selamanya. Kita punya banyak pembantu yang melayani kita, tapi mereka saling melayani. Kita selalu membeli makan, tapi mereka menyediakan sendiri. Kita punya dinding dinding untuk melindungi harta benda kita, mereka punya teman untuk melindungi mereka.
Sang Ayah hanya terdiam terpaku. Lalu sang anak menambahkan... "Terima kasih ayah, untuk telah menunjukkan seberapa miskinnya kita." BUKANKAH INI HAL YANG INDAH UNTUK DIRENUNGKAN ? Membuat kita menyadari apa yang akan terjadi jika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, dibanding hanya mengkhawatirkan apa yang tidak kita miliki. "BERSYUKURLAH ATAS SEGALA SESUATU YANG KAMU MILIKI"

CERITA KASIH, KAYA DAN SUKSES.

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama", kata pria itu hamper bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk kerumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan." Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita." Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang." Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini." Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?" Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.
Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."

CERITA KEBENARAN KECIL DAN KEBENARAN BESAR

Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. "Mari kita berlomba?" "Apa Maksudnya?" "Saya mengajukan pertanyaan 8 kali 3 berapa?" Yan Juan menjawab, "24." "Salah, yang betul 23." "24 dong." "Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23." Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. "Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas." Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu. Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, "ada apa?" Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. "Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?" "Yang benar ya 23." Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.
Sang Guru Kong Cu tersenyum, "Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang." Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, "Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu." 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan. So, apakah anda pernah mengalami kebenaran kecil dan kebenaran besar ini ?
Read More...

fasilitas pegeumis di banda aceh

Terbayang kalau pegemis itu tidurnya di kolong jembatan atau di emperan toko atau juga di taman kota. Ternyata tidak semua pegemis itu meginap di sana. Di kota ini, banyak pegemis malah menginap di tempat penyewaan kamar lengkap dengan alas tidur, sanitasi, dan penerangan listrik.

Seperti halnya di kawasan Terminal Bus, Stui, Banda Aceh. Sedari dulu tempat itu ditengarai sebagai base cam pegemis yang datang dari luar kota ini. Losmen Bambi, di kawasan itu sering menerima orang-orang penjual obat tadisional dan kalangan pegemis keliling bermodalkan ragam surat keterangan, megatasnamakan pembanguan mesjid dan dayah. Beberapa warung di kawasan terminal itu juga ada yang menyewa kamar-kamar untuk mereka para pegemis keliling kota, bahkan, pegemis kelas terminal sekalipun, baik itu yang cacat atau tidak. Malahan harga tempat inap di warung-warung itu, dari segi tarif bersaing.

Di salah satu bangunan rukoh di luar kawasan terminal banyak pegemis berkelas meginap di sana. Di lantai dasar bangunan adalah warung nasi, di lantai dua dan tiga, berupa kamar atau bilik yang disewakan. Dari banyak kalangan pegemis yang dimintai keterangannya di kota ini, mengaku meginap di bangunan tadi. Para pegemis akrab menyebut tempatnya “di warung Bang Man”, demikian beberapa pegemis kota memanggil pemilik warung tersebut. Selain itu ada juga menyebut di warung Bang Lateh dan warung Bang Benu. Dua warung ini berada di dalam kawasan terminal Stui.

Suatu malam wartawan media ini berkunjung ke warung Bang Man dengan maksut melihat lebih dekat fasilitas inap pegemis-pegemis tersebut. Bang Man meminta nama warungnya tidak disebutkan, alasannya demi nama baik warungnya. Dia mengaku membuka warung nasi sekaligus membuka usaha penyewaan kamar alias kamar kost di ruko tempatnya itu di mulai sejak 2004. Ada sepuluh kamar yang dia kostkan. “Yang meginap di sini pedagang kain, pejual obat, dan peminta sedekah,” jelas Bang Man menambahkan biaya sewa satu malam untuk satu orang Rp 7000 sudah termasuk biaya listrik, air mandi plus WC. Untuk kamar madi hanya ada dua dalam kondisi yang menyeramkan.

Malam itu ada 15 orang yang menginap di tempatnya. “Di sini saya selalu menyeleksi yang meginap. KTP juga kadang saya minta, bila mengaku suami istri, saya mita lihat surat nikahnya, kalau ada yang terlalu kotor penampilannya saya tidak ijinkan menginap di sini,” ujarnya seolah tegas. Kalangan peminta sumbangan alias pegemis, diakui Bang Man, lebih banyak menginap di tempatnya disamping ada juga para penjual obat dan pedagang kecil dari luar Aceh.

Kondisi ruangan yang semeraut, penuh coretan dinding, udara pengap merebak bau bacin dari tong sampah yang penuh di ruangan itu. Sepintas suasana di fasilitas peginapan Bang Man kurang terurus. Lampu ruangan redup, suara-suara pria dan wanita terdengar. Suara anak-anak menjerit-jerit. Bilik-bilik itu sebagian terkunci gembok sebagian tidak dan ada yang terbuka begitu saja dengan penghuninya. Beberapa anak kecil dengan lasak berlari di gang depan bilik mereka. Seorang perempuan dengan mengendong anak kecil keluar dari bilik, dibelakangnya ada tiga anak megikutinya dan ibu itu masuk ke bilik lain disebelahnya. Seorang pria muda megenakan kain sarung tanpa baju keluar dari salah satu bilik dengan sebatang rokok yang dihisapnya. “Di Banda Aceh lon kah dua bulen nyoe minta sedekah” (Di banda Aceh saya sudah dua bulan ini minta sedekah), sebutnya mengaku ke Banda Aceh untuk meminta sumbangan pembanguan Mesjid di Samalanga kampungnya. Suara perbincangan via telefon selular dari salah satu bilik terdengar. Mungkin juga suara pegemis yang sudah punya hp.

Di bilik lain ada pintu yang terbuka, “nyo aneuk lon, jih seupot mata, kamoe ban troek dari Aceh Utara,” (ini anak saya, dia buta, kami baru tiba dari Aceh Utara), ujar perempuan tua memperkenalkan anak perempuannya yang terlihat memang tak bisa melihat lagi. Maksut kedatangan mereka jelas untuk mencari peruntungan di Banda Aceh dengan meminta sedekah alias megemis juga.

Bang Man mengaku warungnya itu sudah beberapa kali didatangi orang-orang pemerintahan, baik itu yang memberi teguran atau memberi bantuan kepada pegemis yang meghuni tempatnya. “Kepala desa dusun Teratai, bapak Husni dan Kapolsek Jaya Baru, bapak Irvan, sudak tahu kalau warung saya ini banyak pegemis yang tinggal. Dinas Sosial Banda Aceh juga sudah beberapa kali datang,” sebutnya. Rata-rata penghuni kamar di tempat itu, pengakuan Bang Man, berasal dari Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Barat.

Beranjak sekitar 300 meter dari warung Bang Man, ke dalam komplek Terminal Bus, Stui, Banda Aceh ada sebuah warung kopi tertulis di sisi depannya “Bang Lateh”. Ketika itu, pemilik warung mulai menutup kedainya karena sudah larut malam. Dia, Bang Lateh sebagaimana disebut-sebut oleh beberapa pegemis tadi. Bang Lateh mau dajak bicara dan mengaku kalau sudah tengah malam, warungnnya memang tempat menginap para pegemis terminal dan mereka bayar. “Saya hanya membantu, dari pada mereka meginap di luar tak tentu, lebih baik di warung tempat saya,” katanya dengan sewa inap Rp 6000 hanya disebirikan selembar tikar dan ruangan muat untuk tidur lima orang.

Tak ada WC atau air bersih di warung Bang Lateh. Untuk itu pegemis bisa langsung ke WC umum terminal yang berdekatan. Berkali-kali Bang Lateh mengatakan bahwa dirinya bukan menampung, “saya bukan menampung pengemis, saya hanya membatu. Sayang mereka bila tidur di luar di terminal, barang mereka banyak yang hilang di curi, lebih baik mereka meginap di warung saya biar aman,” ujarnya.

Losmen Bambi yang berdekatan dengan terminal itu, berdasarkan informasi orang-orang di terminal, juga menjadi tempat peginapan para pegemis berkelas alias pegemis propesional sampai kelas teri. Satu malam harga kamar terendah Rp 35.000. “Sedikit sekali mereka yang kerja mencari sumbangan dan sedekah menginap di sini,” ujar seorang pria muda di Losmen Bambi ketika di tanya prihal adanya peminta sedekah menginap di losmen tersebut. Pun demikian, pengakuannya, terkadang ada juga orang yang datang berpenampilan kumal layaknya pegemis menyewa dan menginap di kamar losmen itu.

Inilah sebagian kecil yang tanpak bahwa adanya dukungan fasilitas inap bagi para pegemis di kota ini. Dengan adanya tempat inap khusus itu membuat para pegemis kota tak perlu susah payah cari tempat tidur. Di kota ini fasilitas itu ada dan diketahui oleh pemerintah. Dari segi tarifnya pun terbilang murah membuat para pegemis dari luar kota betah mengais rejeki di Banda Aceh.
Read More...

Usut Kasus Sabu, Polda Kirim Tim ke Malaysia * Juli-Agustus 89,8 Ton Ganja Disita

20 August 2009, 12:16 Utama Administrator

Operasi pemutusan ladang ganja

Sejumlah tersangka dan barang bukti digelar dalam konferensi pers di halaman Kantor Dit Narkoba Polda Aceh, Banda Aceh, Rabu (19/8), dalam rangka kegiatan rutin operasi pemutusan ladang ganja. Polda Aceh berhasil mengamankan barang bukti ganja senilai Rp 179 miliar dan Sabu Rp 1 miliar dalam operasi yang dilakukan selama Juli hinggga Agustus 2009. SERAMBI/M ANSHAR

BANDA ACEH - Kepolisian Daerah (Polda) Aceh dalam waktu dekat akan mengirim tim kepolisian ke Malaysia. Tujuannya, untuk memantau dan mengetahui prosedur pemeriksaan di bandara Malaysia, sehingga bisa menjawab pertanyaan mengapa proses masuknya psikotropika jenis sabu-sabu dari Malaysia ke Aceh terkesan begitu mudah.

“Kami sedang mempersiapkan surat-surat terkait keberangkatan tim ke Malaysia. Kita juga minta perhatian Malaysia terhadap persoalan sabu-sabu yang masuk ke Indonesia, terutama ke Aceh. Sebenarnya bagaimana sih langkah yang mereka jalankan selama ini dalam mencegah hal itu. Soalnya, kok begitu mudah sabu-sabu itu masuk ke Aceh,” kata Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman, saat menggelar konferensi pers di Mapolda Aceh Rabu (19/8) pagi. Agenda temu pers itu mengenai keberhasilan polisi mengungkap sejumlah kasus narkoba di Aceh.

Adityawarman menyatakan upaya mengkoordinasikan pelacakan sumber sabu-sabu itu dengan pihak Kepolisian Malaysia, terus diupayakan. Dalam kesempatan itu Kapolda Aceh juga menyinggung keberhasilan polisi mengungkap sejumlah kasus narkoba di Aceh selama Juli hingga Agustus 2009. Dijelaskan bahwa selama ini yang terdengar dalam pemberitaan setiap ada penangkapan ganja yang mencapai berton-ton baik itu di Jakarta, Jawa Barat, Jambi, Lampung, dan Medan, yang terdengar selalu ganja itu bersumber dari Aceh. “Seolah-olah yang tergambar selama ini polisi di Aceh tidak bekerja. Padahal, setiap hari kita tak berhenti bekerja. Dan, ini bukan penangkapan pertama, melainkan sudah berkali-kali. Kita terus bekerja untuk memberantas barang haram ini,” tukas Adityawarman sambil melirik barang bukti.

Rp 179 miliar
Dalam kurun waktu dua bulan tersebut, Polda Aceh dan jajarannya berhasil menyita 89,8 ton ganja dan 533,6 gram sabu. Ganja sebanyak itu bila dikalkulasikan nilainya mencapai Rp 179 miliar. Sedangkan sabu-sabu bila dikonversi ke rupiah mencapai Rp 1 miliar. Hal itu menunjukkan bahwa Polda Aceh dan jajarannya, kata Adityawarman, terus melakukan langkah-langkah pemberantasan barang haram tersebut.

“Ganja-ganja ini berasal dari Bireuen, Gayo Lues, Aceh Besar, dan Pidie. Bahkan hampir seluruh wilayah Aceh ini menanam pohon ini. Adapun sabu-sabu ini yang beratnya 530,4 gram itu ditangkap dari bandara yang dibawa pulang dari Malaysia dan selebihnya ditangkap Ditpolair,” ungkap Kapolda Aceh.

Menurut Kapolda, ganja merupakan tanaman yang tumbuh subur di Aceh. Tanaman tersebut memiliki nilai jual tinggi. Tidak tertutup kemungkinan, pemodal yang berasal dari luar Aceh juga turut bermain di Aceh. Tapi yang paling penting saat ini sudah ada usaha konkret untuk memberangus kebiasaan warga tertentu menaman ganja. Yakni, dengan menerapkan community development program, program alternatif pengganti tanaman ganja.

“Mungkin dengan adanya program pengganti tanaman ganja ini, para petani yang biasa menanam ganja, akan tertarik untuk menggantinya dengan tanaman yang lebih bermanfaat dan tidak dilarang. Ini yang seharusnya diupayakan bersama-sama. Jadi, kalau begini terus tanpa ada langkah preventif, maka persoalan ini tak akan pernah habisnya,” ujar Aditya didampingi Wakapolda Aceh, Irjen Pol Bambang Suparno.

Konferensi pers itu dihadiri sejumlah pejabat Polda Aceh. Di antaranya Dirnarkoba Kombes Pol Rahadi Mulyanto, Direskim Kombes Pol Wahab Saroni, dan Kabid Humas Kombes Pol Farid Ahmad. Juga tampak hadir Kasat Brimob Kombes Pol Jodi Heriyadi, Dirsamapta Kombes Pol Ilsaruddin, Dirpolair Kombes Pol HM Zaini SH, dan Kabid Propam Kombes Pol Sutrisno Dewo Gono Mukti SH. (mir) Read More...

rambu rambu jalan menuju surga

Read More...
Read More...

Breaking News parlement Aceh

Banda Aceh - Suasana di DPRA atau Dewan Perwakilan Rakyat Aceh pada hari Senin tanggal 18 Februari 2008, Dewan menerima kunjungan secara resmi beberapa perwakilan anggota Parlemen yang berasal dari negara Amerika Serikat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 10 (Sepuluh) orang anggota DPRA dan total anggota perwakilan dari Amerika Serikat sekitar 20 (dua puluh) orang. Para anggota tersebut terdiri dari Duta Besar Amerika Serikat Untuk Indonesia, Cameron Hume bersama 6 (enam) Anggota Kongres lainya yang terdiri dari Jhon Boozman, Wayne Gilchrest, Sam Farr, Jim Mc Dermot dan Michael Conaway serta David Price yang mewakili beberapa negara bagian di Amerika Serikat, seperti negara Bagian New York City, Hawai, California dll.

Pertemuan tersebut dibuka oleh wakil ketua DPRA Raihan Iskandar,Lc, selaku ketua dalam pertemuan tersebut. Kegiatan ini berlangsung hanya sekitar 2 (dua) jam dikarenakan Anggota Kongres dari Amerika Serikat juga akan mengadakan pertemuan dengan pihak Eksekutif Aceh di Pendopo Gubernur untuk membicarakan hal yang sama.

Maksud dan tujuan dari Anggota Kongres negara Amerika Serikat mengadakan kunjungan ke Aceh adalah untuk mengetahui sejauh mana Proses Perkembangan Demokrasi di Aceh pasca MoU (Memorandum of Understanding) Helsinki di Finlandia. Selain itu mereka juga ingin tahu perkembangan didalam proses pembentukan kebijakan atau aturan hukum di Aceh yang berupa Qanun-qanun.

Dalam penyampaian tangapan dari anggota DPRA mengenai pertanyaan anggota Kongres Amerika Serikat. Dewan Aceh memberikan penjelasan tentang proses perkembangan Demokrasi di Aceh, karena menurut Dewan saat ini perkembangan proses demokrasi di Aceh telah memasuki Era perkembangan yang sangat baik dari keadaan sebelumnya, yang di Awali dengan proses pemilihan kepala pemerintahan Aceh (Gubernur) secara langsung dan menjadi pemilihan kepala pemerintahan di Daerah yang pertama untuk proses pemilihan di Indonesia. Sejak saat itu perkembangan proses Demokrasi tidak hanya berlangsung di pihak Eksekutif Aceh, dengan pemilihan SKPD secara Independen. tetapi juga terjadi pada Legislatif Aceh. Antara lain dengan adanya proses partisipasi masyarakat dalam pembentukan qanun-qanun di Aceh yang saat ini telah lahirnya qanun Tata Cara Pembentukan Qanun (TCPQ) sebagai qanun Induk dan Acuan dalam pembentukan Qanun di Aceh.

Selain itu Burhanuddin,S.H selaku anggota Komisi F DPRA juga memberikan beberapa masukan di dalam pertemuan tersebut, yang berupa masih adanya keterlambatan pembentukan dari KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) karena adanya pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai KKR oleh Pemerintah Pusat. Selain itu Samsul Bahri,S.H juga memberikan penjelasan mengenai keterlambatan pembangunan jalan Banda Aceh-Calang yang dananya sebagian besar dari pemerintah Amerika Serikat, ia mendapatkan informasi bahwa apabila proses pembebasan tanah tidak selesai dengan cepat maka pemerintah Amerika Serikat akan menghentikan dana dalam proyek tersebut, dalam pertemuan tersebut ia meminta agar penghentian dana tidak terjadi, karena saat ini pembangunan jalan tersebut sangat di butuhkan oleh masyarakat Aceh.

Selain itu pembahasan mengenai Investasi juga tidak luput dalam pertemuan tersebut. Karena saat ini dirasakan investasi adalah salah satu awal dalam menigkatkan perekonomian di Daerah. Sedangkan mengenai Investasi di Aceh, Anggota Komisi A DPRA jamaluddin T Muku meminta agar pemerintah Amerika Serikat dapat menigkatkan Investasi di Aceh karena dengan adanya Investor di Aceh maka secara langsung dapat membuka lapangan pekerjaan yang saat ini di butuhkan di Aceh dan juga dapat membantu perkembangan Perekonomian di Aceh serta menigkatkan perekonomian Dunia.

Setelah beberapa anggota dewan Aceh memberikan tangapan dan masukan dalam pertemuan tersebut, anggota Kongres Amerika juga di berikan kesempatan oleh Ketua Pertemuan Raihan Iskandar,Lc untuk memberikan beberapa masukan dalam pertemuan tersebut. Dan mereka ikut prihatin dengan kondisi di Aceh setelah Bencana Alam Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. walaupun saat ini baru pertama sekali mengunjungi Aceh yang memiliki salah satu keindahan alamnya.

Beberapa anggota kongres dari Amerika Serikat ingin agar kemandirian daerah dalam koridor otonomi khusus di Aceh dapat benar-benar terlaksana, seperti yang di sampaiakan oleh perwakilan anggota Kongres dari Hawai, ia mengatakan bahwa Hawai saat ini telah mempunyai Kantung-kantung pajak dan pendapatan sendiri untuk menigkatkan propinsinya secara mandiri tanpa bantuan pemerintah Pusat. Mereka menjelaskan bahwa hasil dari pertemuan dengan Eksekutif dan Legislatif Aceh tersebut, akan dapat menjadi masukan untuk mengadakan pertemuan dengan pemerintah Pusat (Jakarta) karena mereka telah menyusun beberapa agenda sebelum ke Indonesia, dan agenda awalnya adalah mengadakan pertemuan dengan Legislatif dan Eksekutif Aceh sebelum mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Pusat.

Sebelum pertemuan tersebut ditutup, dewan Aceh menjelaskan beberapa penjelasan mengenai Syariat Islam di Aceh dan syariat Islam di Aceh sama saja seperti negara-negara Islam lainya. Karena pada dasarnya pelaksanaan syariat Islam di Aceh juga mendukung proses perkembangan demokrasi bukan menghambat proses demokrasi. Dan kemudian setelah itu kedua pihak mengadakan penukaran Cindramata(CIA).

Read More...

artikel

Menyambut penandatanganan Nota Kesepahaman damai di Helsinki antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus yang lalu, masyarakat Kota Banda Aceh berharap agar kedua belah pihak serius dalam menjaga proses perdamaian ini. Harapan ini dilatarbelakangi pada pengalaman sebelumnya yang dalam setiap perundingan selalu menemui jalan buntu. Dimana realitas di lapangan tetap masih terjadi kekerasan yang memakan korban masyarakat sipil. Karena itu, masyarakat sangat mengharapkan pemerintah mau lebih serius dalam mengimplimentasikan proses damai ini.

Selain itu, sebagai wujud partisipasi dari komponen sipil, dianggap perlu adanya komponen masyarakat yang dapat menjembatani antara para gerilyawan dan tapol/napol GAM dengan para keluarga yang menjadi korban konflik kekerasan. Tujuannya agar rasa dendam dan trauma akibat konflik dapat disembuhkan, dan proses reintegrasi gerilyawan serta tapo/napol GAM dapat berjalan lancar dan tidak memicu konflik kembali. Saya sangat optimis bahwa perdamaian kali ini akan terwujud. Karena manalah Ada hujan tanpa reda dan manalah Ada perang tanpa henti.

Dilihat dari Ruang lingkup kehidupan masyarakat sehari-hari, masyarakat di lihat lebih rukun dan damai dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari karena dengan telah di tanda tanganinya kesepakatan damai, dilihat lebih jauh dalam kehidupan masyarakat desa dan perkotaan tidak jauh beda karena masyarakat telah lama mendambakan kedamaiyan di Bumi Aceh yang tercinta.

Konflik yang berlangsung di Aceh telah menimbulkan dampak yang parah terhadap berbangai komponen masyarakat sipil di aceh. Ribuan orang yang dicincai , orang tua, istri, suami dan anak-anak telah gugur,mengalami penyiksaan dan cacat, menjadi janda dan anak yatim.ribuan orang telah kehilangan tempat tinggal dan ribuan lainnya kehilangan perkerjaan dan matapencaharian . ratusan sekolah terbakar, sehingga mengganggu proses pendidikan.lebih jauh dari itu, masyarakat sipil hapir tidak memiliki akses terhadap hokum, sementara sebagian besar pengadilan tidak berfungsi lagi.

Aceh adalah salah satu daerah yang pernah mengalami Konflik yang berkepanjangan dan tindakan kekerasan , konflik yang di dalamnya banyak terjadi pelanggaran HAM dan tindaka kekerasan secara tidak bermoral dan tidak bermartabat terhadap rakyat yang lemah.

Pelangaran HAM tidak hanya di temukan oleh para pengamat dan pengakuan, rakyat aceh.tetapi juga dibenarkan oleh pemerintah dan bahkan aparat TNI,Polri sendiri mengakui telah terjadi kesalahan dan pelanggaran dalam pelaksanaan tugas-tugas oprasional di lapanga dalam meyelesakan masalah konflik di aceh.

Mungkin dari peristiawa yang lalu,bisa membuka ruang bagi rakyat aceh untuk memulai kehidupan baru yang itu semua harus kita bangun bersama-sama supaya Provinsi Aceh Kedepan bisa Rukun dan damai,untuk menjalakan tahapan-tahapan membangun aceh kembali yang harus di pikirkan bersama-sama yang mana aceh pada waktu lalu barusaja terjadi musibah Gempa dan stunami yang membuat sebagian wiliyah pesisi pantai habis di bawak stunami dan ribuan orang meninggal ini mungkin menjadi bahan renungan bagi kita bersama untuk memperbaiki masadepan aceh kembali.

Tapi, peristiwa Tsunami pula yang mengetuk pintu nurani kemanusiaan pemerintah RI dan GAM untuk berdamai. Menyelesaikan konflik melalui jalur politik. . Walau sebelumnya jalur damai juga sudah ditempuh. Ya, penandatanganan perundingan Helsinki 15 Agustus lalu adalah momentum Aceh baru. Setelah hampir 30 tahun bersengketa, akhirnya pemerintah RI dan GAM sepakat mengakhiri konflik. Konflik bersenjata berkepanjangan tersebut juga menelan korban yang tidak sedikit. Pro dan kontra Helsinki Meeting masih saja menjadi buah bibir dan berita utama media massa selama beberapa bulan terakhir. Baik lokal maupun nasional.

Kalangan kontra berpendapat bahwa pemerintah menyerah kepada GAM dengan mengikuti kemauannya, kekhawatiran internasionalisasi masalah Aceh, juga isu partai lokal tawaran GAM dianggap sebagai pintu belakang menuju kemerdekaan. Isu terakhir ini menjadi pembicaraan hangat menyangkut undang-undang baru bagi pemerintahan di Aceh, syarat partai lokal, dan sebagainya. Bahkan ada yang lebih ekstrim menganggap pemerintah SBY-Kalla inskontitusional. Malah, ada gerakan-gerakan baru mengatasnamakan untuk membela tanah air. Sementara bagi GAM, menurunkan hasrat merdeka kepada self government karena menurut mereka yang terpenting adalah rakyat Aceh.

Sementara kalangan yang pro menyarankan SBY-Kalla justru diberi hadiah nobel perdamaian. Alasannya karena SBY-Kalla berhasil mempertemukan kedua pihak untuk duduk di meja perundingan dan kembali kepangkuan Ibu pertiwi. Walaupun harga yang di bayar sangat mahal. Pertama, memang biaya jalur militer lebih besar dibanding melalui meja perundingan. Kedua, dikatakan lebih mahal karena menyangkut masalah kedaulatan bangsa Indonesia. Sebab, banyak dari poin-poin kesepakatan masih terlalu longgar untuk dapat ditafsir. Sangat memungkinkan versi GAM dan pemerintah RI bisa berbeda. Jadi, ada yang menyarankan ada semacam “pejabat senior” dari kedua pihak untuk meluruskan atau sinkronisasi tafsiran dari masing-masing pihak. Hal ini menjadi penting dalam hal implementasi dan sosialisasi di lapangan. Ada juga yang berpendapat bahwa janganlah melihat pohonnya, tapi lihatlah hutan seluruhnya.

Semua asumsi, ulasan, dan pendapat semua orang tentang Aceh adalah sah-sah saja.Tapi semua harus dibangun berdasarkan fakta dan realita di Aceh. Alangkah lebih bijak bila masalah Aceh ditanyakan langsung pada rakyat Aceh. Jakarta dan siapapun jangan sok tahu masalah Aceh. Sehingga, penyelesaiannyapun jangan sesuka hati. Acuh tak acuh sebagian rakyat Aceh terhadap penandatanganan perundingan Helsinki lebih dikarenakan karena rakyat sudah jenuh. Rakyat hanya selalu menjadi korban dari setiap konflik berlangsung. Semua mengaku berjuang untuk rakyat, tapi justru menyengsarakan rakyat. Tafsir penyelesaian masalah Aceh harus dilandasi semangat keikhlasan menerima kenyataan oleh kedua belah pihak untuk selalu berpikir jalan-jalan yang terbaik.

Satu hal yang membuat banyak orang lupa bahwa sesungguhnya Aceh bukanlah milik pemerintah dan GAM saja, tapi seluruh rakyat Aceh memiliki hak atas tanah Aceh. Walau sejengkal tanah, rakyat jelata dan komponen sipil harus dihargai dan dimanusiakan. Nyawa rakyat bukan seperti nyawa sapi yang begitu mudah tergadai oleh peluru panas karena berbeda pendapat. Pembungkaman, pengusiran, teror, intimidasi, penculikan ataupun namanya terhadap rakyat tidak dapat dibenarkan.

Apapun bentuk perundingan, dimanapun berunding bagi rakyat hanya satu. Damai. Titik. Damai adalah kemerdekaan. Rakyat ingin hidup wajar dan dapat menjadi dirinya. Bisa ke sawah dan ke ladang. Melaut, berdagang tanpa ada penodongan senjata. Sama seperti di daerah dan di dunia yang lain. Cota tanyakan saja mereka yang hidup terlunta-lunta di gubuk nun pelosok disana. Coba tanyakan mereka yang terseok-seok di tenda pengungsian. Atau mereka yang terhimpit panas di barak-barak pengungsian.

Padahal disadari atau tidak rakyat dan komponen sipil memiliki potensi besar untuk menjadi jalur tengah penyelesaian masalah Aceh. Atau mungkin bahkan ditangan rakyat dan komponen sipillah Aceh akan hidup sejahtera dan damai. Sebab, merekalah yang lebih tahu apa yang mereka inginkan. Merekalah yang mengalami tiap hari. Logikanya, kedua pihak seharusnya menarik simpati rakyat kalau ingin mendapat tempat di hati rakyat. Sebab, masalah Aceh tidak akan cukup diakhiri sebatas perundingan oleh kalangan petinggi manapun di negeri nun jauh disana. Di tanah Aceh menanti kerja besar untuk mengimplementasikan kesepakatan itu. Kesepakatan damai mesti dikawal dengan upaya membangun kepercayaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Implementasi adalah pertaruhan apakah satu pihak berani mempercayai pihak lain yang selama ini menjadi lawan. Bukan teken saja.

Untuk itu, dengan realitas diatas kita tersadar akan pentingnya kehidupan damai di Aceh. Terlepas dari kepentingan politik semua orang, persoalan Aceh hanya akan selesai dengan jalur damai. Karena kekerasan hanya melukai setiap orang. Perundingan Helsinki adalah starting point untuk menuju pintu damai di Aceh. Jadi bukan final. Bukan dengan penandatanganan berakhirlah semua masalah.

Kalau soal ketidakpuasan ekonomi dan ketidakpuasan politik seperti tuntutan DI/TII, model-model penyelesaian negosiasi dan model seperti ini menjadi model final. Namun, karena ada persoalan identitas kesukuan dan agama, maka akan tetap menjadi pertanyaan tidak mudah segera diselesaikan. Ia khawatir harapan politik para negosiator dan pemerintah serta para pengambil kebijakan bahwa negoisasi di Helsinki ini sebuah usaha politik maksimum terakhir dan semua masalah sudah menjadi selesai.

Peristiwa ini hanya transformasi bertahap dari penggunaan metode kekerasan menjadi metode politik. Jadi, fungsi negoisasi ini bukan untuk menyelesaikan persoalan regional, tetapi untuk meminimalisasi instrumen kekerasan dan militer. Pekerjaan panjang jauh lebih berat dari negoisasi politik yang parsial ini dan tidak mungkin berhenti dalam waktu dekat. Meski demikian, hasil negoisasi yang menyetujui penghentian kekerasan ini harus dicatat sebagai prestasi besar karena pembeda fundamental peradaban politik yang baik dengan politik barbarian adalah kemampuan mencegah penggunaan kekerasan sebagai bentuk penyelesaian. MoU Helsinki harus dipahami sebagai bukan sebagai one for all formula. Itu bukan formula akhir yang menyelesaikan segalanya. Para perunding harus melihat betul sejarah bahwa gejolak di Aceh belum bisa diselesaikan dalam waktu 70 tahun sampai hari ini. Bangsa ini harus belajar bahwa ada masalah regional yang tak bisa diselesaikan dengan perundingan dan produk pertemuan politik sebagus apapun bukan jaminan akhir penyelesaian. Masih tetap membutuhkan proses negoisasi yang panjang.

Kunci utama dalam proses panjang itu adalah bagaimana mengambil kepercayaan masyarakat. Mengembalikan sharing identity, yaitu bagaimana Indonesia memasukkan Aceh sebagai bagian identitas. Dan sangat bersamaan NAD juga berproses menerima Indonesia dan bagian-bagian lain sebagai identitasnya.

Karenanya, sikap GAM yang tidak mematok lagi harga merdeka dan turun gunung adalah sebuah prestasi. Prestasi bagi GAM dan juga bangsa Indonesia. Karena sama-sama memikirkan rakyat Aceh. Sebab itu, semua kita juga harus komitmen cinta kedamaian. Mou Helsinki adalah ibarat bayi. Seorang bayi harus kita jaga bersama, kita pelihara dan kawal bersama. “Bayi harampun” dalam agama tidak disuruh bunuh, karena ia tidak berdosa. Kitalah para pendosa yang manatap orang lain dengan penuh murka dan selalu menganggap diri paling benar. Semua kita.

Kita memang berdoa semoga tidak lagi ada gelombang tsunami. Tapi, mari juga berdoa semoga tak juga ada ‘tsunami lain”. Tsunami pembunuhan. Tsunami penculikan. Dan Tsunami kekhawatiran. Terakhir, bilapun ada airmata yang tertumpah di tanah ini, maka itu adalah airmata haru gembira karena anak negeri hidup rukun damai bahagia. Bukan lagi, airmata kebencian dan kepedihan yang saban hari hanya akan melukai semua kita. Berlebihankah kami rindu damai

Dengan bulan yang sangat suci ini marilah kita bersama-sama untuk saling tidak bermusuhan lagi antara sesama masyarakat aceh dan mungkin di hari yang akan mau tiba ini yaitu hari kebesaran umat islam semua menyambut tibanya hari raya idul fitri yang intinya dihari itulah kita saling sirahturahmi antara masyarakat aceh saling berjabat tangan dan maaf-maafan.

Read More...
Read More...

Image Optimization

http://www.sitereportcard.com/imgs/0.357425975919799-original.jpg Read More...

Image Optimization


http://www.sitereportcard.com/imgs/0.522055920287134-20.jpg Read More...

Wednesday, August 19, 2009

System requirements

System requirements
Windows Live products have different system requirements depending on the product and your operating system. To see a full list of Windows Live system requirements, go to the Windows Live System Requirements website.

If you have Windows XP Service Pack 1 (SP1) or earlier installed on your computer
To install and use Windows Live Essentials you must upgrade to the latest version of Windows XP. Learn more about upgrading to the latest version of Windows XP.

To find out which version of Windows XP is running on your computer, do the following:

Click the Start button, right-click My Computer, and then click Properties.
The version of Windows XP you are running is displayed under System.


Notes
To install or uninstall Windows Live programs, you must have administrator (The person who manages a computer and has permissions to make changes to the computer, including installing programs, accessing files, and managing user accounts.) rights on the computer.
The easiest way to update your Windows-based PC is to go to Windows Update.
Related topic
Cancel installations or uninstall products

,IS_WL_installerv3 , , qer_sys , wli80280004 80280004 , remove hardware software needed need necessary minimum at least speed have enough web IE version CPU PC instal what are dash board product requires requirement required Read More...
http://byfiles.storage.msn.com/y1p0Je0T_rU2IEEoee2WbbKr4BPPTQayYi5DODUPwxYl16yDmkFq2LOoc1asd9sygl1?PARTNER=WRITER Read More...

http://byfiles.storage.msn.com/y1p0Je0T_rU2IEEoee2WbbKr4BPPTQayYi5DODUPwxYl16yDmkFq2LOoc1asd9sygl1?PARTNER=WRITER Read More...

Archive for the ‘Berita Foto’ Category

http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/IptuSIB.JPG
http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/EphorusSIB1.jpg
http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/UspidaSIB.JPG
http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/Detik-detik3.jpg
http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/HUTSIB1.JPG
http://hariansib.com/news/wp-content/uploads/2009/08/JalanSIB1.jpg Read More...

Aceh Baru

Hampir di setiap sudut di jantung kota Banda Aceh, kerap kita jumpai spanduk atau selebaran yang ditempel di sembarang tempat tentang kondisi Aceh saat ini. Satu baligo besar malah pernah menghiasi kota, isinya tentang Aceh masa depan. Ada juga tiga trip baligo yang dipasang berseri, menceritakan perjalanan Aceh. Yang pertama Aceh Baru, kedua terakhir baligo tersebut bercerita Aceh masa lalu yaitu, tengan konflik dan tsunami.

Aceh Baru, menjadi jargon semua pihak baik itu eksekutif atau legislatif. Semua bicara tentang Aceh Baru. Bahkan, sejumlah kepala dinas dengan semangat mencanangkan program unggulan yang berkaitan dengan Aceh Baru menyongsong masa depan. Tidak luput, sejumlah aktivis yang berdiskusi di mailing list atau di kedai-kedai kopi selalu saja bersemangat ketika membasa soal Aceh Baru dalam rentang perjalanan ke depan. Sesekali obrolan itu penuhnya emosional, jarang yang berdialo santun dan masuk akal dengan logika ilmiah baik itu bicara soal pembangunan dan lain hal di Aceh. Coba simak, ketika sebuah obrolan menyoal begitu Aceh ini selalu tergantung dengan Medan, Sumatera Utara. Beberapa aktivis malah cenderung emosioal ketika bicara Aceh harus segera keluar dari ketergantungan dari Medan. Obrolannya jadi ngelantur kesana kemari ketimbang membahas soal hal teknis dan mekanisme pasar yang sesungguhnya. Ketika obrolan itu diserap masyarakat menengan ke bawah, kesannya pun menjadi sangat emosional sekali. Belum didapat sebuah bahasan mengenai bagaimana upaya nyata mengembalikan Aceh sebagai titik awal bisnis mancanegara, bukan sebaliknya titik akhir dari semua jaringan bisnis alias konsumen yang bisa dimainkan seenaknya.

Mantan Ketua Bapel BRR, Kuntoro Mangkusubroto dalam sebuah seminar di Anjong Mon Mata menjelang berakhirnya masa kerja BRR, menggambarkan dengan nyata bagaimana seharusnya rakyat Aceh mengubah pola pikir agar arah angin bisnis Aceh-Medan menjadi berbalik Medan-Aceh, artinya Aceh menjadi titik awal dari semua urusan bisnis, bukan seperti saat ini. Kuntoro malah seperti menyindir, bahwa semua infrastruktur sudah dibangun di Aceh. Apa yang tidak ada di tempat lain, ada di Aceh. Maka alangkah, mundurnya jika fasilita tersebut, kata Kuntoro, sama sekali tidak bisa membuat rakyat Aceh berubah. Ini tentu baru urusan dalam bisnis, belum dalam hal lain terkait menuju Aceh Baru yang didambakan itu.

Mengutip, tulisan Dr. Kamal A. Arif, menuju Aceh baru perlu membawa paradigma baru yang bertumpu pada prinsip jalan tengah yang tidak terjebak pada eksklusivisme maupun ekstremitas yang radikal. Diantara dua kelompok yang berkonflik itu, muncul kelompok adaptif atau transformatif yang berusaha mencari jalan tengah konflik itu. Jalan tengah ini merupakan bakat asli khas Indonesia, akibat pandangan dasar nilai-nilai aslinya yang selalu mencegah terjadinya akhir “kalah-menang” dari dua oposisi yang berseberangan.

Membangun Aceh tentu tidak hanya dengan pembangunan fisik yang kering dan rapuh, tetapi membangun Aceh yang memiliki ruh yang mencerminkan nilai-nilai adat dan budayanya. Aceh sudah barang tentu menerima dampak buruk dari konflik yang amat lama dan pembangunan yang serba segera pascatsunami.

Menuju Aceh Baru, tentu tidak sesederhana menyatakan Aceh akan segera meninggalkan Medan. Aceh tidak akan lagi tergantung dari Medan. Tetapi itu semua bisa terwujud jika mekanisme pasar yang ada saat ini bisa diubah. Termasuk juga mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung konsumtif menjadi masyarakat yang produktif. Dengan ini menuju Aceh Baru bukan sekedar impian, tetapi jalan yang sama-sama sedang diretas. Read More...

Refleksi 4 tahun Perdamaian di Aceh; demi generasi masa depan aceh yang lebih baik

BANDA ACEH - Berbagai komponen masyarakat Aceh, Sabtu (15/8) memperingati empat tahun kesepakatan damai yang diteken di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Seruan dan harapan agar damai berlanjut bergema dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan sepanjang hari kemarin. Di Kota Banda Aceh, ratusan warga yang tergabung dalam komponen masayarakat sipil, mewarnai peringatan empat tahun kesepakatan damai RI-GAM dengan melakukan pawai dari Taman Sari menuju Masjid Raya Baiturrahman. Pawai tersebut selain diikuti para pejalan kaki, juga puluhan pengendara sepeda ontel, becak bahkan mobil yang mengusung spanduk bertemakan pesan-pesan perdamaian.

Perwakilan komponen masyarakata sipil Aceh menyampaikan orasi di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Mereka menyerukan seluruh komponen masyarakat Aceh untuk terus menjaga dan mengisi perdamaian dengan kegiatan-kegiatan yang akan memperkokoh damai. Kepada Pemerintah Aceh diminta untuk segera menyusun perencanaan pembangunan yang lebih berjangka panjang sebagai cetak biru pembangunan dan perdamaian berkelanjutan di Aceh. “Kepada eksekutif dan legislatif Aceh, agar mempercepat pembuatan Qanun Aceh sebagai aturan pelaksanaan Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang bisa menjawab berbagai kebutuhan dan masalah yang ada dalam masyarakat,” kata Koordinator Panitia Peringatan Empat Tahun Perdamaian Aceh, Iqbal Farabi dalam orasinya.

Sedangkan kepada Pemerintah Pusat, komponen masyarakat sipil Aceh mendesak mempercepat pembentukan Perpres, PP, dan Keppres yang dimandatkan oleh Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU-PA) sebagai aturan pelaksana undang-undang tersebut. “Kepada masyarakat nasional maupun dunia diharapkan untuk terus memantau dan mendukung proses damai Aceh, sehingga implementasi damai Aceh bisa dijadikan pembelajaran bagi seluruh upaya damai di muka bumi ini,” demikian pernyataan bersama yang dibacakan Iqbal Farabi. Peringatan empat tahun perdamaian Aceh yang berlangsung di Banda Aceh dihadiri pejabat sipil dan militer serta tokoh-tokoh masyarakat.

Acara yang digelar oleh Konsorsium Aceh Baru dan didukung sepenuhnya oleh Usaid - Serasi diahdiri seribuan peserta dari berbagai daerah, dan ini merupakan hal yang pertama sekali dilakukan dalam memperingati perdamaian di Aceh yang kini memasuki usia 4 tahun, agar perdamaian yang telah ada saat ini terus terjaga sepanjang masa.

Read More...